Mendadak saya teringat suatu momen sekitar 15 tahun lalu, saat saya memaksa petugas di sebuah kantor pemerintahan untuk menerima tips 10 ribu atas informasi yang dia sampaikan sebagai jawaban pertanyaan saya. Masih cukup jelas saat itu saya sampai memaksa, padahal yang bersangkutan sudah menolaknya, hingga akhirnya saya tinggalkan uang 10 ribu tersebut di mejanya. Dipikir ulang saat ini, kok bisa yah, heran banget saya, apalagi jika saya bandingkan dengan prinsip saya saat ini bahwa pejabat pemerintahan adalah pelayan rakyat, memang sudah menjadi kewajiban mereka untuk melayani masyarakat, disesuaikan dengan deskripsi tugasnya masing-masing, sebagai kewajiban atas gaji dan segala tunjangan serta fasilitas yang mereka nikmati di mana kita tahu semuanya berasal dari uang pajak rakyat dan hasil kekayaan negeri ini.
Saat itu saya baru mulai membangun usaha kecil, setelah sekitar 10 tahun berkelana menjadi karyawan dengan berbagai macam posisi dengan beragam jenis pekerjaan, yang penting bisa hidup. Pernah di dunia perbankan, jadi sales produk pertambangan, audioman televisi swasta, dan beberapa lagi yang kurang berkesan sehingga saya lupa, yang pasti bertemu banyak orang dengan berbagai watak dan perilaku. Inikah yang mungkin membentuk pola pikir saya bahwa memberi tips atas pekerjaan yang memang kewajibannya adalah bagus … atau baik ? untuk siapa ? mengapa?. Tapi bagaimana kalau kita sanggah bahwa pola pikir itu terbentuk karena terbiasanya kita melihat perilaku-perilaku tersebut sehingga kita anggap itu menjadi sebuah budaya bahkan adab yang perlu kita terapkan pula pada diri kita?
Bisa jadi pula pola pikir saat itu terbentuk hanya karena melihat suatu kebiasaan tanpa punya filter, yaitu ilmu, karena minimnya pengalaman, kurangnya informasi, sedikitnya bacaan. Tulisan ini bukan untuk mencari kebenaran ataupun pembenaran (apakah tindakan saya itu salah atau benar), namun ke arah mengapa itu bisa dilakukan saat itu dan rasanya tidak akan mungkin saya lakukan lagi untuk saat ini dan ke depannya. Bukan berarti saya akan berhenti memberi tips, namun saat ini lebih punya filter dan pertimbangan akan hal tersebut.
Jika kebiasaan yang menjadi dasar pembenaran atas sesuatu, maka bagaimana kita menjawab bahwa dahulu adalah lazim bagi seorang raja atau pemimpin memiliki ratusan budak, adalah suatu hal yang memalukan jika hanya memiliki anak perempuan bahkan ada yang tega membunuh bayi perempuannya sendiri, atau kebiasaan zaman dahulu yang menganggap bahwa pendidikan hanya untuk kaum ningrat, atau budaya yang mengatur adanya kasta manusia. Mengapa semua contoh-contoh kelaziman masa lampau itu telah luntur dan perlahan menghilang?
Saya cenderung untuk introspeksi diri, memeriksa kebiasaan-kebiasaan saya yang membudaya, koreksi pola pikir yang perlu dilakukan seiring dengan bertambahnya pengalaman dan meluasnya sudut pandang. Masih ada harapan lain dari saya atas tulisan yang saya usahakan di bawah 500 kata ini, yaitu mengajak kita semua, khususnya yang sudah masuk usia kematangan 40 tahun ke atas, untuk berhati-hati dalam berucap, bertindak dan berperilaku apalagi yang berdasarkan kebiasaan lama, jangan-jangan ada yang perlu dikoreksi. Bagi generasi muda, tetaplah berani dalam berkarya namun jangan lupa untuk terus menimba ilmu dan pengalaman yang akan menjadi landasanmu dalam berperilaku hingga akhirnya menjadi budaya, yang berilmu dan beradab. Jangan salahkan budaya, karena itu adalah hasil dari masa lalu, teruslah untuk menguji dan mengasah pola pikir kita, hanya ada satu landasan yang harus kita jaga, Al Quran, iqra.
(maaf jadi 513 kata 🤦♂️)