Penjelajahan saya di dunia UX Design tak diduga mampir ke SKETCHNOTING. Membawa memori masa SMA saat membuat catatan/rangkuman untuk persiapan ujian. Teringat semangat menulis diatas selembar kertas A4 yang telah dilipat hingga menjadi 8 bagian bolak-balik. Saya berusaha agar setiap bab dapat dirangkum hanya kedalam selembar kertas tersebut, tak perduli apapun mata pelajarannya.

Melihat para sketchnoter menampilkan karya-karya mereka benar-benar menggugah saya untuk mendalami seni visualisasi catatan yang saat ini dapat dilakukan di gadget seperti Ipad atau Tab.

https://qaspire.com/wp-content/uploads/2015/11/Why_Sketchnotes-1-724×1024.jpg

Sekalipun cara-cara modern membuatnya sudah mudah untuk dilakukan, namun cara tradisional masih tetap punya rasa tersendiri.

Sketchnotes by Auge an Hirn, https://www.tomboweurope.com/en/inspiration/sketchnotes

Alatnya sederhana, kertas dan beberapa pulpen, spidol, maupun brush marker. Tidak perlu dibuat rumit dan mahal hingga harus punya Ipad pro, bukan itu. Lebih nyaman lagi, saat ini banyak karya-karya sketchnoter yang bisa dijadikan inspirasi bagaimana para pemula bisa mem visualisasikan sesuatu kedalam catatan mereka. Saya bahkan ikut salah satu kelas online nya di domestika, itupun cari yang harganya dibawah 100 ribu, untuk lifetime worthed lah.

Saat ini saya belum melihat konektifitasnya antara sketchnoting dengan UX Design, tapi saya yakin ada dan sangat erat. Mengapa saya pertanyakan ini? Sebab saya juga sudah harus berhati-hati membagi waktu dan tenaga, jika sesuatu yang merupakan hobi saat ini harus dapat mendukung pekerjaan yang sedang diperjuangkan. InsyaAllah.