Dua minggu sudah jadwal harian berantakan, semua daily to do list kacau dan tidak terselesaikan sesuai target. Implementasi atomic habit yang di detailkan pada to do list rasanya sudah cukup indah ter petakan di jadwal harian dari Senin hingga Minggu. Meskipun tertatih saat awal mendisiplinkan diri, namun boleh dibilang cukup berhasil terlaksana setelah sekitar satu bulanan bergelut. Alhamdulillah
Rencana memang akan selalu berhadapan dengan kendala. Saat datang tanggung jawab baru, target baru, yang meskipun bersifat sementara, namun ternyata bisa membuat keberhasilan pendisiplinan diri yang baru berjalan kurang dari satu bulan menjadi porak poranda, hahaha kok jadi terlalu puitis ya ?
Pertanyaannya adalah mengapa ? kok bisa ?
Apakah tanggung jawab dan target baru yang sementara tersebut lebih penting dari rencana perbaikan diri ?
Ataukah ternyata keberhasilan yang baru berumur kurang dari sebulan tersebut belum cukup kuat untuk menjadi pondasi menuju the new me?
Idealnya jawaban saya tentu begini, bahwa perbaikan diri itu harus selalu menjadi prioritas utama, sehingga saat skala prioritas mudah berubah, besar kemungkinan kelemahan pondasi menjadi sebab kesulitan untuk tetap istiqomah.
Mari tinggalkan perdebatan mencari sebab, dua sebab diatas sudah cukup. Selanjutnya apa ?
Refresh komitmen kita. Ulangi lagi keberhasilan diri. Ada kesempatan evaluasi sejenak. Perbaikan itu perlu konsistensi untuk terus bangkit kembali saat terjatuh. Saya berbicara dengan kata ganti “kita”, karena saya percaya bukan hanya saya saja yang mengalaminya.
Semangat ! … Refresh ! … Resuccess !