Mobilku bergerak perlahan melintasi jalan Kartini yang padat. Inilah salah satu alasanku malas untuk sering-sering berkunjung kerumah orang tua ku, macet dibeberapa ruas jalan yang menuju kesana. Warna merah dan oranye mendominasi peta jalan pada aplikasi di hp ku. Sebagai navigator, istriku sering periksa layar hp nya, klik sana-sini, mencoba alternatif jalan lain, apakah ada perubahan waktu tempuh yang signifikan, walhasil sepanjang pengalaman kami, waktu tempuh dari rumah menuju ke Cilodong Depok tidak pernah kurang dari 60 menit di hari Sabtu maupun Minggu yang menjadi jadwal kami berkunjung kesana. Hanya saat lebaran dan tahun baru saja waktu tempuh menjadi 35-40 menit!.

Sekitar kurang dari 100 meter di depan, mataku menangkap sesuatu yang memancing komentarku. “Hmm, ini lagi nih para penyumbang keruwetan jalanan!”, gumamku lirih. Ada-ada saja ulah orang di jalanan dan di trotoar, motor lawan arus, gerobak pedagang berjualan, angkot berhenti sembarangan, “Polisi Cepek” di setiap putaran balik yang sekarang marah kalau dikasih cepek!, dan sekarang tambah marak para penghibur jalanan dengan berbagai bentuknya. Dulu aku hanya mengenal pengamen jalanan yang menjajakan ketrampilan mereka di lampu merah, dan banyak diantara mereka yang bisa menghibur hatiku saat menunggu, sepertinya aura dan jiwa seni mereka dapat membuat rasa kemanusiaanku terusik. Berbeda jauh dengan kondisi 5 tahun belakangan ini, keberadaan para penghibur jalanan sudah sangat menggangguku. Ada penyanyi dengan suara falseto di sepanjang lirik dengan iringan tepuk tangan, ada orang-orang yang sepertinya mencoba ber pantomim dengan mewarnai sekujur tubuh mereka dengan cat silver agar mencuri perhatian, lalu kini ada yang memakai kostum-kostum tertentu menari-nari diiringi suara musik yang membuat polusi berat di telingaku. Persis yang mau tidak mau akan kulewati saat ini. Aku mencoba mencari kesibukan lain guna meredam rasa benci, namun pikiranku sulit dialihkan, apalagi suara musik dari pengeras suara mereka tidak dapat diredam oleh apapun, semakin dekat semakin keras, dan herannya kenapa pergerakan mobil seperti semakin melambat, tidak jauh lambatnya seperti saat menunggu detik-detik adzan maghrib di bulan ramadhan.  “Ah, sudahlah!”, akhirnya aku pasrah, akal sehatku menasihati diri, “Daripada membenci lebih baik menikmati”, katanya dalam hatiku. Setelah sekilas memandang wajah cantik istriku yang tertidur, aku alihkan pandangan ke sang penghibur tersebut. Perlahan sambil mendekatinya, argumen dalam pikiranku masih belum berubah, tetap sebuah pertanyaan : “Ini apanya yang menghibur yah?”. Kucoba memberi perhatian lebih dengan mengesampingkan suara musik mereka, dilihat dari kostumnya, “Sepertinya kostum Iron Man ya?”, tanyaku dalam hati, tapi kok warnanya gitu … kenapa mukanya lebar? … itu tangannya besar sebelah … dan seterusnya dan seterusnya komentar negatif mengalir dalam benakku. “Pelecehan karya cipta nih!”, simpulku. Sekali lagi “Ah, sudahlah!”, untuk apa aku berkomentar lebih jauh. Berjarak sekitar 1 mobil di depanku, sang Iron Man tiba-tiba berhenti menari dan melepas topeng di kepalanya. Loh sepertinya seorang wanita, seorang ibu yang aku kenal, meskipun saat ini wajah itu nampak lebih hitam dan berpeluh keringat, tapi aku yakin dia orangnya. “Bu Reni !”, tanpa sadar kubuka kaca mobil dan menyapanya. Beberapa detik tertegun, sambil terlihat agak malu dia menjawab: “Eh Bapak, mau kemana lewat sini?”. Dan terjadilah perbincangan basa-basi sambil menunggu mobilku melintasi “panggung pentasnya”.

Sekitar 2 hari lalu ibu Reni dengan beberapa temannya dari kelurahan datang kerumahku dalam rangka melakukan pendataan warga. Kedatangannya pun bukanlah yang pertama kali, namun merupakan yang kesekian kalinya, dan selalu dalam rangka tugasnya selaku sekretaris RT terhadap warganya. Meskipun tidak mengenal dekat, tapi aku punya kesan baik terhadap ibu Reni. Pakaiannya yang selalu nampak bersih dan rapih, senyumnya yang sopan serta santun tutur katanya memberikan kesan sebagai orang yang berpendidikan tinggi.

Pertemuan di tengah jalan tadi benar-benar membuat kaget nalarku. “Kok bisa yah?”, tanyaku dalam hati. Sebuah pemandangan kontras sedang dipertontonkan dihadapanku. Biarlah nanti kucoba tanyakan saat dia datang, sesuai janjinya tadi, untuk meminjam berkas dalam rangka membantuku mengurus perpanjang ijin makam kakek yang sudah habis bulan lalu. Entah mengapa tadi aku langsung meminta ibu Reni untuk mengurusnya, apakah karena rasa penasaranku ini ataukah karena memang masalah perpanjang makam sudah menjadi bisul dalam pikiranku yang terus mendesak untuk mencari penyelesaiannya.

 

Sesuai janji mereka datang. Obrolan singkat dengan ibu Reni dan anaknya yang datang sore tadi memberikan sedikit gambaran kondisi ekonomi keluarga mereka, rupanya robot kecil yang berada dihadapan ibu Reni saat “pentas” kemarin adalah anak perempuannya ini, Nara yang baru berusia 16 tahun seminggu lalu. Mereka berdua punya jadwal pentas setiap sore di hari kerja di pertengahan jalan Kartini tersebut. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuketahui tentang keluarga mereka, semisal pertanyaan: “Apa tidak malu Bu?”, yang ingin kulontarkan, namun rasanya kurang etis dan tentunya akan membuat canggung ibu Reni untuk menceritakan problem hidupnya dihadapan orang yang bukan siapa-siapa baginya. Maka kusimpan saja semua, toh nanti bisa kutanyakan di pertemuan berikut.

 

Seminggu berlalu dengan berbagai aktifitas yang membuatku lupa masalah pengurusan makam oleh ibu Reni. Menurut perhitunganku, paling lambat kemarin ibu Reni seharusnya sudah datang atau paling tidak menghubungi aku jika ada kendala. Langsung kucari no HP nya untuk kuhubungi, 3x nada jawaban sama kudengar, telefon tidak dapat dihubungi karena berada di luar jangkauan. “Wah kenapa yah?”, tanyaku dalam hati. Seandainya uang 300 ribu yang kutitipkan kurang, seharusnya kan hubungi saja HP ku, miss call pun akanku telfon balik. Tapi ah masa kurang? … jangan-jangan …. Males deh punya problem kaya gini. Sehari-Dua hari berlalu menambah kesal dalam hatiku, sampai kuputuskan jika besok Kamis pagi belum ada kabar juga, akan kucari rumah ibu Reni melalui Pak RT.

Sulit kusembunyikan rasa kesal ini dihadapan istriku, meskipun dia telah menyiramiku dengan senyuman dan nasihat agar bersabar dan berprasangka baik.

 

“Assalammualaykum,… Selamat pagi Pak”, sapaku saat bertemu Pak RT diberanda rumah beliau.

“Waalaykumussalam, Selamat pagi juga Pak, Dengaren (jawa=tumben) nih, ada yang bisa saya bantu?”, jawabnya ramah dengan logat Jawa yang masih sedikit terasa. Setelah basa-basi sebentar lalu kusampaikan maksud dan tujuanku untuk menemui ibu Reni terkait pengurusan ijin makam. Belum habis kalimat penjelasanku, Pak RT langsung memotong :

“Wah Bapak rupanya belum dapat kabar yah, bu Reni dirawat sejak Senin sore di Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Dia kecelakaan di jalan Kartini, sampai hari Rabu kemarin sore, saat saya bersama beberapa warga jenguk, belum sadarkan diri, sepertinya geger otak”

“Innalillahi wa innailaihi rojiun”, jawabku cepat merespon.

“Hayo sini saya antar kerumahnya dua gang dari sini, biar kita bisa ditanyakan langsung kabar terakhir kepada anaknya”, tanggap Pak RT sambil bersiap mengantarkanku.

“Sebenarnya ibu Reni saat ini sudah bukan warga RT kita Pak, dia pindah ke kontrakannya saat ini bersama kedua anaknya setelah ditinggal kawin oleh suaminya yang kemudian pergi entah kemana”, cerita Pak RT tanpa kutanya, menurut Pak RT, ibu Reni orangnya ringan tangan, jadi meskipun sudah bukan warga tetap jadi sekretaris RT. Beberapa hal mengenai kebaikan-kebaikan ibu Reni disampaikan Pak RT, yang secara tidak langsung juga menampakkan keprihatinannya terhadap kondisi ibu Reni. Entah mengapa perasaanku menjadi semakin khawatir akan kondisinya saat ini. Ditambah lagi ada perasaan berdosa dalam hatiku yang telah berprasangka buruk kepadanya.

Perkiraan sekitar kurang dari 3 menit kami sampai dihadapan sebuah rumah kecil, lebih tepatnya sebuah petak paviliun kecil ber cat kuning pudar dengan dinding berukuran sekitar 3-4 meter. Sebuah pintu sepertiga terbuka berlapiskan triplek kayu dengan cat berwarna biru tua yang telah memudar terutama di bagian bawah pintu tersebut dan terlihat telah merekah akibat panas dan hujan.

“Assalammualaykum … Raka … Nara … !”, salam Pak RT sambil mengetuk pintu dan mendorongnya sedikit hingga terbuka separuh.
”Waalaykumussalam”, jawab seorang bocah laki-laki berusia sekitar 12-13 tahun, yang menyongsong kami dengan kondisi sebagian tubuhnya berwana perak, “Wow Silver Boy!”, kagetku dalam hati yang untungnya tidak terucapkan. Wajahnya ceria dengan senyum yang menarik, dengan melihatnya saja sudah bisa membuat hati terhibur.

Kami berbicara hanya dari luar pintu, namun mataku sambil menjelajahi isi ruangan yang kondisinya penuh barang namun rapih dan bersih dengan penerangan yg agak kusam.

“Alhamdulillah”, ucapku dan Pak RT hampir bersamaan. Menurut Raka, The Silver Boy, Ibunya telah sadarkan diri kemarin sore dan kondisinya semakin membaik. Yang membuatku semakin merasa berdosa adalah saat Raka menyerahkan sebuah titipan kepada Pak RT, yang isinya berkas-berkas pengurusan ijin makam kakekku, lengkap dengan rincian biaya serta uang kembalian sebesar 148 ribu. Sebelum menyerahkannya, Raka bercerita bahwa ia dititipkan ibunya untuk minta tolong ke Pak RT agar dapat memberikan berkas ini kepada pemiliknya warga Pak RT, sambil menyerahkan Raka minta maaf kepada Pak RT karena baru menyerahkannya pagi ini, sebab pesan tersebut baru tadi malam diterimanya, dan rencana akan diserahkan pagi ini saat mampir ke rumah Pak RT sebelum “pentas silver boy” bersama teman-temannya satu jam lagi.

 

“Ya Allah ampuni dosaku yang telah berprasangka buruk terhadap mereka”, doaku dalam hati saat itu, dan mungkin inilah doaku yang paling dalam yang pernah kuucapkan dalam hati.

 

Tidak ada alasan maupun keraguan saat itu. Kubatalkan semua jadwal dan janjiku, lalu bersama Pak RT dan beberapa warga menuju Rumah Sakit untuk menjenguk ibu Reni disana. Tekadku satu, memohon maaf pada ibu Reni atas prasangka burukku.

Satu jam sudah berlalu, cerita mengenai kejadian naas tersebut menjawab penasaran dan pertanyaan kami yang hadir, dari sebab kejadian yang hanya karena tersandung oleh kaki robot, dihantam oleh minibus, kostum pentas yang rusak, HP yang hilang, hingga sampai di ruangan Rumah Sakit ini, membuat tak terasa hingga jam jenguk pun usai. Kami berpamitan kepada ibu Reni yang meskipun masih terlihat lemah namun terpancar semangat dan senyuman. Nara pun ikut pulang bersama kami, karena menurutnya, dia perlu istirahat sejenak sebelum “pentas” sore ini dan kembali lagi nanti malam untuk menjaga ibunya bersama Raka.

 

Jangan tanya soal sekolah mereka padaku

Jangan tanya bagaimana mereka mencari nafkah saat hujan

Jangan pula tanyakan apa akun medsos mereka agar dapat di viralkan

Berhentilah berprasangka buruk dan bijaklah dalam menyimpulkan

 

 

Menjelang adzan maghrib diatas meja kerjaku

Jakarta, 28 Oktober 2023